
Jumat
@ Rumah Sakit, Kamar VIP 2
Mayda : ( berdiri menatap tubuh Fahmi, Suaminya di tempat tidur, diam, matanya berkaca-kaca )
@ Rumah Sakit, Kamar VIP 1
Rama : ( duduk menunduk di samping tubuh Belia, istrinya yang koma, melamun, dan sesekali menghela nafas panjang )
@ Rumah Sakit, koridor ruang VIP
Mayda : ( berjalan pelan menyusuri lorong, tangannya memegangi pegangan, tampak rapuh, tiba-tiba dia merasa lemas dan menangis sambil berjongkok )
Rama : ( berdiri di depan mesin minuman hangat, membeli cappucino, dia melihat ke arah Mayda dan dengan cepat dia menghampiri Mayda yang terjatuh lemas, melupakan cappucino hangatnya yang masih tertinggal di mesin )
Mayda : ( terisak )
Rama : Hmm, anda baik-baik saja?
Mayda : ( masih terisak )
Rama : ( ikut berjongkok ) Dari kamar VIP 2?
Mayda : ( memandang Rama dengan mata yang basah dan merah ) I..iya.. dari VIP 1?
Rama : ( mengangguk ) lebih baik kita duduk di depan mesin minuman itu,…kebetulan segelas cappucino hangat saya sudah jadi dan belum saya ambil di mesinnya ( mencoba tersenyum di atas muka letihnya ), mari… ( berdiri dan mengulurkan tangan )
Mayda : ( menatap uluran tangan Rama, tidak meraihnya, melainkan berdiri sendiri )
Rama : ( berjalan lebih dulu, mengambil cappucino dan memasukkan koin untuk membuat satu cappucino lagi, kemudian dia memberikan cappucino sebelumnya kepada Mayda ) silahkan…Saya sudah beli lagi,…
Mayda : ( mengambil cappucino yang diulurkan Rama dengan ragu, kemudian menekan-nekan gelas kertasnya untuk merasakan panas cappucino pada kulit tangannya yang kaku karena dingin, sesekali dia mengusap tetesan air matanya )
Rama : ( mengambil cappucino yang telah jadi, dan duduk di samping Mayda )
Mayda : Saya…
Rama : Lebih baik tenangkan diri dulu…saya lihat anda tadi…cukup terguncang.
Mayda : Memangnya anda tidak? Apakah anda bisa menerimanya?
Rama : Saya Rama…Anda?
Mayda : Mayda…
Rama : ( mengangguk ) Jadi kamu belum melampiaskan kekesalan pada suamimu tadi Mayda?
Mayda : ( tercekat atas pertanyaan Rama, kemudian menggeleng perlahan )
Rama : Kamu pasti sangat mencintainya, sampai-sampai tidak bisa meluapkan kekesalan kamu di depan dia,… bagaimana keadaannya?
Mayda : Koma…
Rama : ( tersenyum pahit ) Begitu juga Istriku,…Dokter mengatakan hanya keajaiban saja yang bisa membuatnya selamat dari ini semua.
Mayda : Apakah kamu tahu tentang ini semua Rama?
Rama : Kufikir dia adalah isteri yang setia…sampai 3 bulan terakhir ini, kurasakan Belia agak berubah, sering pulang malam…menjadi cuek denganku ( kemudian berdiri dan melihat ke arah luar jendela ) dan semuanya menjadi jelas pagi ini…ketika aku tiba di sebuah rumah sakit di Bali ini.
Mayda : Maafkanlah Fahmi…( berkata pelan )
Rama : ( menoleh ke arah Mayda ) Suami kamu? Fahmi namanya?
Mayda : ( mengangguk )
Rama : Kenapa kamu yang minta maaf atas perbuatan suamimu…dan istriku, perselingkuhan mereka…., Mayda? Kamu fikir…Fahmi mencintaimu?
Mayda : ( menatap Rama, agak tersinggung dengan perkataannya ) Saya mau kembali ke kamar…
Rama : Kalau dia mencintaimu…dia tidak akan mengkhianatimu Mayda…dia tidak akan sampai hati membuatmu menderita begini, karena kufikir…engkau wanita baik-baik dan terhormat sehingga tidak pantas bagi Fahmi untuk…untuk memperlakukanmu begini ( berkata lirih )
Mayda : Kulihat kamu juga tipikal suami yang baik Rama…kuharap kamu bisa memaafkan perbuatan mereka. Demi kebahagiaanmu juga… ( menatap Rama sebentar, kemudian berjalan ke arah kamar )
Rama : Bagaimana aku bisa bahagia?! ( meremas gelas kertas cappucinonya yang telah habis )
Sabtu
@ Kantor polisi
Polisi : Silahkan duduk Ibu Mayda Fariza, hmm ya, di kursi sebelah Bapak Rama…
Mayda : ( menoleh sebentar ke arah Rama, menatap kursi, merasa ragu…namun tetap duduk )
Polisi : Anda berdua tentu sudah tahu rincian kejadian kecelakaan itu bukan? Dari Pak Sapto, anak buah saya…
Mayda : ( mengangguk )
Rama : Ya..tapi apakah benar, itu murni kecelakaan?
Polisi : ( menatap Mayda ) Suami Ibu yang menyetir kendaraan tersebut…analisis sementara kami…( menatap Rama ) dia bersama dengan Isteri Anda…hmm…
Mayda : Tidak perlu diteruskan Pak…Kami sudah tahu…
Rama : ( menyenderkan punggungnya ke kursi, mukanya nampak tegang )
Polisi : Menurut sejarah catatan di kepolisian kami, kecelakaan itu termasuk yang sangat dahsyat, itu keajaiban kalau mereka berdua masih hidup…
Rama : Tuhan rupanya masih memberi kesempatan kepada mereka berdua…untuk menyadari dan menebus kesalahannya.
Mayda : ( terpana dengan perkataan Rama )
@ Halaman kantor polisi
Mayda : ( menatap bangkai mobil yang sudah hancur bagian kap mesinnya )
Rama : Aku…atau kamu yang masuk?
Mayda : ( menghela nafas ) Aku dulu…
Mayda : ( merunduk memasuki kabin mobil, banyak cecehan darah yang mulai mengering, dia menelan ludahnya, membereskan barang-barang yang dikenalnya sebagai barang Fahmi, setelah dirasanya cukup dan mau keluar, dia melihat sebuah sepatu biru berhak tinggi…) Ini…punya Istrimu?
Rama : ( menerima sepatu biru berhak tinggi dari tangan Mayda dan lalu menimangnya ) Yah…Aku membelikannya sewaktu di Paris minggu lalu…dan ternyata dia memakainya di Bali pertama kali bersama selingkuhannya.
Mayda : Rama…kurasa, aku pusing sekali…Berat bagiku harus menghadapi semua ini sendiri…
Rama : Hmm,…aku tahu sebuah pantai indah di dekat-dekat sini…sama seperti kamu Mayda, saya pun pusing menghadapi semua ini…semalam saya terus mempertanyakan tentang perasaan saya lagi terhadap Belia…Kumohon, temani saya beberapa saat di pantai itu ya…( wajahnya tampak pucat dan lelah )
Mayda : ( mengangguk ) Ya…Aku titip barang-barang ini di mobil yang kamu sewa tadi ya…
@ pinggir pantai
Mayda : Bagus sekali pantainya…pasirnya putih…airnya bahkan hangat …kamu sering ke sini?
Rama : Kamu lihat sebuah villa di atas bukit itu? Aku habiskan masa kecil di sana…namun sekarang Villa itu sudah di jual ke orang Jerman, relasi orangtuaku.
Mayda : Pantai ini…bukan untuk umum ya? karena sepi…
Rama : Sebenarnya wisatawan bisa juga masuk ke sini, hanya saja mereka lebih memilih nongkrong di Kuta atau Legian…di sini tenang Mayda, tapi memang kita tak bisa melihat sunset dari sini…tertutup kedua bukit di sana ( menunjuk ke arah bukit )
Mayda : Kamu sering bersama Istrimu ke sini?
Rama : Yah…dan aku bertaruh kalau Belia kemarin juga membawa suamimu ke sini…( berkata dengan getir )
Mayda : Fahmi… mungkin dia bosan hidup bersamaku…biduk cinta kami yang terasa baginya sangat menjemukan, karena tidak juga terdengar tawa dan celoteh malaikat kecil setelah lima tahun kami menikah…
Rama : Kurasa bukan itu alasan Fahmi untuk berselingkuh dengan Belia…kamu tahu Mayda? Belia bahkan tidak pernah nyaman berada di dekat anak kecil…walau aku sendiri sudah sangat menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangga kami…
Mayda : Jadi, mengapa Fahmi berselingkuh dengan istrimu Rama? …maaf aku sebut dia Istrimu saja, karena aku tak merasa nyaman kalau menyebut namanya.
Rama : Lebih baik kamu tak perlu tahu jawabannya Mayda…laki-laki punya seribu alasan yang mereka cari untuk menghalalkan sebuah perselingkuhan.
Mayda : Apakah kamu juga pernah berselingkuh?
Rama : Andai saja aku bisa…
Mayda : Istrimu pasti sangat cantik, sampai kamu tak sempat memikirkan wanita lain…
Rama : Bukan karena itu…aku menghormati dia, sebagai wanita terakhir yang aku pilih untuk menjadi Istriku…aku tak ingin merusak ikrar suci kami…aku menjaganya selama ini…sampai…aku mengetahui semuanya, pengkhianatan cintanya,… sejak semalam dan sampai sekarang, hati kecilku terus mempertanyaan perasaanku lagi kepadanya ( menggenggam pasir pantai dengan tangannya, kemudian melemparnya ke laut, tampak kemarahan di muka Rama )
Mayda : Perasaan cintamu lenyap Rama?
Rama : ( terdiam )
Mayda : ( menatap Rama )
Rama : Aku ingin berenang Mayda…( berdiri, melepas kemejanya dan berlari ke arah laut )
Mayda : Rama…ini mendung! Ombaknya juga agak besar…Rama! ( berdiri )
Rama : Aku pusing Mayda…aku ingin mendinginkan hatiku yang saat ini bergejolak! Aku ingin mendinginkan kepalaku agar aku bisa berfikir tentang perasaanku!
Mayda : Kembalilah Rama! Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu…Hei!
Rama : ( berbalik memandang Mayda, tersenyum dan menceburkan diri ke arah laut )
Mayda : ( melepaskan sepatu, melemparnya begitu saja, berlari cepat menyusul Rama, dan tanpa berfikir panjang Mayda menceburkan dirinya ke air laut ) ( Mataku pedas…tapi aku harus menemukan Rama…harus…karena sepertinya dia lebih terguncang daripada aku…Rama, dimana kamu?! )
Rama : ( Hatiku perih…biarkan aku selamanya saja di sini…Belia, sampai hatinya kau…aku yang setengah mati mempertahankan semuanya, aku yang setengah mati berusaha menjadi suami terbaik bagimu…menjadi satu-satunya pria yang engkau cintai…Belia…)
Mayda : ( setengah mati mengangkat tubuh Rama, menarik tangan Rama…dan kemudian dia menampar wajah Rama yang tengah terpejam matanya )
Rama : ( kaget dan membuka matanya )
Mayda : ( wajahnya telah basah dengan air mata ) Aku tahu kamu terluka! Nggak bisa nerima kenyataan ini! Tapi kamu jangan menjadi laki-laki bodoh Rama! Kamu…bukan kamu saja yang sakit tau! Aku juga…Bukan kamu saja yang mencintai Istri kamu…bukan kamu saja yang merassa kecewa dan terluka….( menutup mukanya dan terisak )
Rama : ( tertegun dan kemudian cepat memeluk tubuh Mayda yang basah ) maafkan aku…maafkan aku…ssh…jangan menangis lagi Mayda…iya kamu benar…bukan kamu saja yang terluka…( perlahan Rama mengecup kening Mayda )
@ Mobil
Rama : Maaf, dingin ya? AC nya lebih baik aku matikan…
Mayda : Iya…
Rama : Bajumu basah…kita mampir ke toko dulu ya, aku belikan baju buat kamu…
Mayda : Nggak usah Rama…kita ke rumah sakit saja…
Rama : Aku menginap di hotel depan rumah sakit…kamu tidur dimana?
Mayda : ( mukanya tersipu kemerahan )
Rama : Oh..bukan maksudku mengajakmu menginap di hotel Mayda…
Mayda : Iya..( tersenyum malu )
Rama : Daripada suster-suster di rumah sakit bengong melihat kamu yang basah kuyup padahal hari masih mendung, lebih baik kamu keringkan baju dulu di hotel tempat aku nginap.
Mayda : ( menggeleng ) Kita langsung ke rumah sakit saja ya…sekalian aku melihat keadaan Fahmi.
Rama : Dia benar-benar lelaki yang bodoh…
Mayda : ( memandang ke arah Rama ) Rama…sebaiknya kita lupakan kejadian di pantai tadi…
Rama : Kamu menyesal aku..menciummu Mayda?
Mayda : Kamu tak menyesal Rama?
Rama : ( menggeleng ) Aku terpesona denganmu…
Mayda : ( mukanya menghangat dan jantungnya berdebar )
Rama : Kalau kau merasa tak berkenan,…maafkan aku Mayda ( menggenggam tangan Mayda erat )
Minggu
@ Koridor kamar VIP
Rama : ( menatap Mayda sambil tersenyum ) Pagi…
Mayda : Pagi
Rama : Bagaimana keadaannya?
Mayda : Masih sama…
Rama : ( mengangguk ) Kata dokter Fuad, ada sedikit darah yang masuk di paru-paru Belia…tapi mereka belum bisa melakukan operasi, karena kondisi Belia yang belum stabil.
Mayda : Oh…
Rama : ( menatap Mayda tajam )
Mayda : Ada apa? ( salah tingkah )
Rama : Kamu berdandan ya hari ini?
Mayda : ( pipinya memerah…) Biar nggak pucat…
Rama : ( menyentuh tangan Mayda ) Sudah sarapan?
Mayda : ( menepis halus tangan Rama dan berbisik ) Nanti dilihat dokter dan suster di sini, nggak enak…
Rama : Okay, maaf…( berbisik di telinga Mayda ) Aku tak tahan untuk menyentuhmu, kamu tampak manis sekali…
Mayda : ( tersenyum malu mendengar perkataan Rama )
Selasa
@ Mobil Rama
Rama : Aku akan menceraikannya Mayda…Ini sudah terlalu berat untuk aku maafkan…
Mayda : ( terdiam )
Rama : Aku inginkan kamu…
Mayda : ( terperanjat mendengat kata-kata Rama )
Rama : Kumohon, fikirkanlah…
Rabu
@ Ruang tunggu kamar VIP
Mayda : ( membaca buku, menunduk )
Rama : ( berjalan menuju ruang tunggu, tersenyum ke arah Mayda yang sedang asyik membaca ) May…( memanggil pelan )
Ibu Sukotjo : Rama…
Mayda : ( menengok ke arah Ibu yang duduk di depannya dan Rama )
Rama : Ibu? Kapan datang? ( menatap kaget ke arah Ibu Sukotjo dan menatap Mayda sebentar yang duduk di belakang kursi Ibu Sukotjo )
Mayda : ( menatap Rama, dan mengangguk pelan )
Ibu Sukotjo : Baru saja, Ibu barusan dari kamar…
Rama : ( duduk di sebelah Ibu Sukotjo, di depan kursi Mayda ) Kenapa nggak bilang Rama, biar saya jemput di airport…
Ibu Sukotjo : ( terisak pelan ) Ibu malu nak…
Rama : Ibu…( menggenggam tangan Ibu dan mengelus pundaknya yang tergugu )
Ibu Sukotjo : Maafkan Belia nak…
Mayda : ( tidak membaca bukunya melainkan mendengarkan percakapan di depannya dalam diam dan terus menunduk )
Rama : Ibu tahu?!
Ibu Sukotjo : Tentu saja, aku Ibu yang melahirkan dan membesarkannya…aku tahu…kalau sudah ada yang tidak beres dalam rumah tangga kalian…
Rama : ( terdiam )
Ibu Sukotjo : Rabu minggu lalu, Belia menelepon Ibu…dia bilang kalau saat itu dia sedang bahagia…yah…dia tertawa bahagia nak, dia bilang dia sedang off kerja dan pergi ke Bali…di belakang suaranya terdengar suara tawa laki-laki, namun Ibu yakin, itu bukan suaramu nak…
Rama : ( menghela nafas )
Ibu Sukotjo : Ibu lalu menegurnya dengan keras…Ibu marah…
Rama : Sudahlah Bu…mungkin saya yang belum mampu membuat Belia bahagia…
Ibu Sukotjo : Belia yang tak bisa berterima kasih kepadamu nak…Ibu rasa dia yang terlalu banyak menuntut…Rama, Ibu sudah mengenalmu lama…kamu suami yang sangat baik, kamu yang mau melakukan apa saja untuk membuat rumah tanggamu bahagia, kamu sama seperti mendiang Suamiku, ayah Belia…ah Belia saja yang terlalu naif dan egois, Ibu malu…
Rama : Hmm,…apakah dia terdengar sangat bahagia di telepon waktu itu Bu?
Ibu Sukotjo : Iya…bahkan Ibu sempat mendengar dia tertawa keras,… seperti anak kecil yang sangat kegirangan…Ibu bahkan belum pernah mendengar dia tertawa seperti itu ( tercekat dan menatap Rama, merasa sangat bersalah )
Rama : ( menatap Ibu mertuanya, tersenyum getir ) Sekarang Ibu sudah menyadari kan? Belia tidak bahagia hidup dengan saya…
Ibu Sukotjo : Rama…bukan itu maksud Ibu…Ah, seorang Istri harusnya selalu mengabdi dan setia kepada Suaminya…
Rama : Walau dia tidak lagi merasakan bahagia Ibu?
Ibu Sukotjo : Belia menikah denganmu, karena dia mencintaimu…Ibu sangat tahu itu.
Rama : ( terdiam )
Ibu Sukotjo : Rama, maafkanlah perselingkuhan itu…Itu hanya cinta palsu, Belia hanya merasakan emosi sesaat.
Rama : Saya memaafkannya Bu…tetapi…untuk menerima Belia kembali…saya tidak bisa.
Ibu Sukotjo : ( terisak ) Jangan Rama…Ibu mohon…Ibu sudah sayang sekali kepadamu, dari sebelum kamu jadi menantu Ibu, dan bahkan mendiang Ayah sebelum meninggal pun sudah menitipkan Belia kepadamu…untuk kamu jaga! Kamu ingat itu kan Ram?!
Rama : ( terdiam, hatinya pilu…)
Ibu Sukotjo : Ibu sudah tua Rama, Belia anak tunggal Ibu…tolonglah Rama…pertahankan rumah tangga kalian, kalau Belia sadar nanti, Ibu yakin dia akan menyadari kesalahan-kesalahannya…
Rama : ( menghela nafas, panjang dan terasa berat ) Saya sudah teramat sakit Bu…
Ibu Sukotjo : Setidak-tidaknya sebelum Ibu nggak ada di dunia, Ibu ingin melihat kalian bersatu…dan bahagia…Ibu mohon Rama, … Kanker… Ibu ini hanya tinggal menunggu hari…
Rama : Apa Bu?!
Mayda : ( tercekat …air matanya menetes perlahan )
Ibu Sukotjo : ( berkata pelan, suaranya bergetar ) Ibu sudah stadium 3 nak…
Rama : Sejak kapan? ( matanya berkaca-kaca )
Ibu Sukotjo : Sudah tiga bulan ini Ibu menolak untuk di kemo…Ibu pasrah nak…Ibu sudah teramat lelah hidup sendiri setelah Bapak nggak ada. ( menatap Rama ) Rama, … kembalilah dengan Belia, walaupun untuk meminta maafmu Ibu harus mencium kakimu, Ibu lakukan…demi kebahagiaan anak Ibu satu-satunya, Belia…
Rama : Ibu! ( memeluk wanita tua yang sudah terlihat rapuh dengan lengannya yang kokoh, Rama menatap Mayda dengan matanya yang basah kemudian mengucapkan sebuah kata yang tak berbunyi kepada Mayda… “Maaf….” Dengan bibirnya yang bergetar )
Mayda : ( menatap Rama dengan air mata yang berlelehan…kemudian menganggukkan kepalanya )
Seminggu kemudian…
Rabu
@ Kamar VIP 2
Mayda : ( sedang menyeka lengan Fahmi perlahan dengan lap basah, dan kemudian membenarkan letak selimutnya )
Rama : ( membuka pintu perlahan )
Mayda : ( merasa kaget ) Rama…
Rama : ( menangis sambil bersender di dinding kamar ) Belia…sudah nggak ada.
Mayda : Ah…( memeluk Rama erat dan mengusap punggungnya )
Rama : Aku sudah memaafkan dia…sebelum dia pergi, aku bisikkan ke telinganya…aku sudah memaafkan dia.
Mayda : Aku pun sudah memaafkannya…( berbisik lirih, menatap sebentar kearah Fahmi yang masih koma )
Rama : Terimakasih Mayda…( melepas pelukan dan tertegun melihat ke arah Fahmi ) Baru kali ini aku melihat Suamimu…
Mayda : Iya…itulah Fahmi
Rama : ( memandang Fahmi lama kemudian air matanya menetes dan Rama cepat mengusap dengan tangannya)
Mayda : ( berjalan ke arah Rama, mengusap lembut punggungnya ) Kamu masih belum bisa memaafkan Fahmi? ( bertanya pelan )
Rama : Sudah May…Aku sudah memaafkan perbuatannya dengan Belia, namun…aku akan lebih sakit hati kalau setelah dia sadar nanti, dia tidak meminta maaf kepadamu.
Mayda : Fahmi belum ada perubahan apa-apa…
Rama : ( masih melihat keadaan Fahmi ) Bagaimana perasaannya kalau tahu ‘kekasih’nya sudah meninggal…
Mayda : Sedih…sudah pasti…kita bahkan tidak tahu, Fahmi akan selamat atau tidak…( ada getar dalam suaranya )
Rama : ( mengusap pipi Mayda pelan ) Perasaanku terhadapmu masih sama May, aku masih menunggumu…okay, Aku mau mengurus jenazah Belia dulu, jaga diri baik-baik yah, jangan sampai terlalu lelah, setiap hari nanti aku akan meneleponmu…
Mayda : ( mengangguk ) Aku turut berduka cita ya Ram…
Jumat
@ Koridor Rumah Sakit
Suster : Ibu Fahmi, suami Anda baru sadar 10 menit yang lalu!
Mayda : Ah…iya Sus! ( berjalan cepat mengikuti suster )
@ Kamar VIP 2
Mayda : Pa…( berkata pelan, air matanya menetes…)
Fahmi : ( menatap Mayda, bibirnya bergetar mencoba tersenyum ) Ma…
Mayda : ( menciumi kening Fahmi, menangis haru penuh rasa syukur )
Fahmi : ( tiba-tiba terisak ) Maafkan aku Ma…Maafkan aku ( berbisik di telinga Mayda dalam isaknya )
Minggu
@ Kamar VIP 2
Mayda : ( menyuapi bubur kepada Fahmi )
Fahmi : ( menatap Mayda ) Kamu sudah tahu …dia sudah meninggal?
Mayda : ( berhenti menyendokkan bubur…terdiam menatap Fahmi )
Fahmi : Aku bertanya kepada suster ketika kamu pergi tadi.
Mayda : Aku tidak ingin kamu sedih Pa, nanti keadaanmu drop lagi.
Fahmi : Walau kamu sudah tahu tentang ceritanya, kamu masih merawat dan menungguiku Ma…
Mayda : Kamu masih suamiku kan Pa?
Fahmi : Kamu tak benci dan jijik kepadaku?
Mayda : ( menggeleng ) Setiap manusia pasti punya kesalahan…
Fahmi : Aku sering melihatmu dalam koma ku…
Mayda : ( tercekat ) Melihatku?
Fahmi : Yah…antara sadar dan mimpiku…aku melihatmu bersinar…mendengarkan lembut suaramu. Kamu tampak manis sekali…
Mayda : ( terdiam )
Fahmi : Sering di saat aku ingin menyerah, aku teringat kepadamu Ma, dan di saat aku teringat kepadamu, aku ingin sekali untuk hidup kembali, menjadi manusia yang baru…dan memperbaiki kesalahanku ( matanya berkaca-kaca )
Mayda : Tetapi,…andai kamu tahu dia masih hidup…apakah Papa akan masih mencintainya?
Fahmi : Aku takut kamu nggak percaya Ma…kalau aku bilang tidak akan kembali kepadanya…Ma…Dia sudah menikah juga, dan aku pun merasa bersalah kepada Suaminya.
Mayda : ( terdiam )
Fahmi : Mama pernah lihat Suaminya?
Mayda : Cuma beberapa kali…
Fahmi : Dia pasti takkan memaafkanku…
Mayda : Dia sudah memaafkanmu Pa…Dia sempat ke kamar ini dan melihatmu…
Fahmi : Bagaimana reaksinya Ma?
Mayda : Dia hanya berdiri, melihatmu…dan sebelum pergi dia bilang kepadaku, dia telah memaafkanmu
Fahmi : ( menatap Mayda lalu memejamkan matanya ) Semoga Tuhan juga memaafkanku…
Mayda : ( menoleh ke luar jendela ) Cerah sekali di luar sana…sayang kalau terlewatkan begitu saja…jalan keluar yuk Pa, aku bantu kamu untuk duduk di kursi roda.
Fahmi : Iya Ma…
@ Taman Samping Rumah Sakit
Rama : ( menyusuri koridor di sebelah taman, langkahnya bersemangat, membawa sebuket bunga mawar untuk Mayda, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dari kejauhan menatap Mayda yang sedang tersenyum dan mendorong kursi roda…dengan Fahmi yang sedang duduk di atas kursi roda itu, Rama melihat pemandangan di depannya dengan hati yang tak bisa digambarkan, namun dia pun tersenyum melihat wajah Mayda yang berseri-seri diterpa sinar matahari yang menembus dahan pepohonan, sebelum Mayda akan melihatnya, Rama berbalik kembali ke arah depan…dia menyadari, walau hatinya telah tertinggal di sana, namun sudah tak ada lagi tempat untuknya di sana…sebuket bunga mawar lalu dia berikan kepada sekumpulan suster-suster yang berpapasan dengannya ) Suster suka bunga kan? Ini saya berikan untuk anda….
Mayda : ( Melihat sosok Rama yang dengan cepat segera menghilang ke arah depan…saat itu juga dia ingin mengejar, namun punggung tangannya diremas oleh Fahmi )
Fahmi : ( tersenyum kepada Mayda ) Aku mencintaimu Ma…
Mayda : ( tersenyum ) ( Ya, aku masih seorang Istri bagi Suamiku…walau hatiku sempat terbagi dengan pria lain…namun aku masih berusaha menjadi istri yang sempurna untuk dia,…)
Semarang, 27 Desember 2007
Soundtrack Song : Ikanan De – Goro M & Koji T
Terinspirasi dari sebuah film Korea…film ini sudah lama saya tonton, tapi tetap saja sentuhan ksedihan kisahnya masih memancar kuat dalam sanubari, dan inginnya saya membagi keindahan cinta tersebut dengan Anda, teman-teman berharga, lewat gaya bertutur saya sendiri…